
Way Kanan – Di tengah berbagai keterbatasan, semangat gotong royong kembali menjadi kekuatan utama masyarakat.Hal itu terlihat dari kegiatan cor tambal sulam yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat Kampung Menanga Siamang, Kampung Juku Batu, dan Kampung Menanga Jaya (Sumber Sari) di ruas jalan Tanjakan Jukoh Rie, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan.sabtu 20 juni 2026.
Kegiatan tersebut melibatkan seluruh unsur pemerintahan kampung dan masyarakat, mulai dari Kepala Kampung, Sekretaris Kampung, Kasi, Kaur, BPK, RT, Linmas, Ketua BUMDes beserta anggota, hingga warga yang secara sukarela turun langsung ke lapangan demi memperbaiki akses jalan yang selama ini menjadi jalur penting bagi aktivitas masyarakat.
Di satu sisi, kegiatan ini patut diapresiasi sebagai wujud nyata kepedulian dan kebersamaan masyarakat. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang layak menjadi bahan evaluasi bersama:
mengapa masyarakat harus terus bergotong royong memperbaiki infrastruktur yang sejatinya merupakan kebutuhan dasar dan menjadi penopang utama roda perekonomian rakyat?
Kepala Kampung Menanga Siamang, Sanjaya, menyampaikan bahwa aksi swadaya tersebut lahir dari rasa tanggung jawab bersama terhadap keselamatan pengguna jalan dan kelancaran aktivitas masyarakat.
“Kami bergerak bukan karena ingin mengambil peran pemerintah, tetapi karena kondisi jalan ini sudah membutuhkan penanganan. Keselamatan masyarakat tidak bisa menunggu terlalu lama. Alhamdulillah, seluruh elemen masyarakat dari tiga kampung menunjukkan kepedulian yang luar biasa,” ujar Sanjaya.
Menurutnya, jalan Tanjakan Jukoh Rie merupakan akses yang setiap hari dilalui masyarakat untuk berbagai kepentingan, mulai dari aktivitas ekonomi, pendidikan, pertanian hingga pelayanan sosial. Karena itu, kerusakan jalan tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.
Lebih lanjut, Sanjaya berharap semangat gotong royong masyarakat dapat menjadi perhatian bagi para pemangku kebijakan untuk melihat langsung kondisi infrastruktur di lapangan.
“Masyarakat telah menunjukkan kepeduliannya. Harapan kami, pemerintah daerah juga dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap kebutuhan infrastruktur pedesaan agar pembangunan dapat dirasakan secara merata,” tambahnya.
Fenomena swadaya perbaikan jalan yang terjadi di Tanjakan Jukoh Rie sesungguhnya bukan hanya tentang pengecoran jalan.
Lebih dari itu, kegiatan ini mencerminkan pesan bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian tinggi terhadap pembangunan daerah.
Namun semangat tersebut tentu tidak boleh dijadikan alasan untuk mengurangi perhatian terhadap kebutuhan infrastruktur yang menjadi hak masyarakat.
Pembangunan jalan bukan sekadar urusan beton dan aspal, melainkan menyangkut keselamatan pengguna jalan, kelancaran distribusi hasil pertanian, akses pendidikan anak-anak, hingga pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan.
Gotong royong adalah warisan budaya yang harus dijaga. Akan tetapi, ketika masyarakat berulang kali harus turun tangan menutupi berbagai keterbatasan infrastruktur, maka hal tersebut patut menjadi bahan refleksi bersama bagi seluruh pemangku kepentingan.
Sebab pembangunan yang berkeadilan tidak hanya diukur dari banyaknya program yang direncanakan, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat hingga ke pelosok kampung.
Penulis: Mulyadi, CPLA
Rilis: Jurnalis Maestro Indonesia (JMI) Kabupaten Way Kanan.




